Musa Yang Lebih Baik

"Renungan di pagi hari, adalah bacaan yang membekali
umat Tuhan, dalam melakukan aktivitas yang penuh dengan
tantangan dan cobaan hingga fajar merekah."
Jum'at 2 Juni 2017.

Anak Yang Rupawan

Anak yang rupawan, Lentera dunia, Terang kecil“Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi, lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.” (Keluaran 2:1-2).

Terjamahan King James Version menyatakan dia melihat bahwa dia adalah seorang anak yang “rupawan.” Yang benar adalah bahwa orangtua itu sendiri yang rupawan. Nama Amram, “kerabat seorang luhur,” dan Yokhebed, “dia yang kemuliannya adalah Yahwe,” menunjukkan bahwa mereka, tidak seperti sebagian besar tawanan, tidak melupakan Allah yang benar. Bahkan, nama Yokhebed menunjukkan yang pertama kali diketahui berhubungan dengan nama TUHAN yang sakral. Kita tidak tahu banyak mengenai dia. Dia berasal dari suku Lewi, dan sangat jelas dari keputusan bijaksana yang dia buat sehubungan dengan anak yang dilahirkannya, dia adalah seorang wanita yang bijaksanan dan berani.

Kepada pasangan yang saleh ini, yang sudah dikaruniai anak-anak, termasuk Miriam (kata dari mana nama Maria berasal), lahirlah bayi Musa, yang namanya berarti “karena dia telah diangkat dari air.”

Bagi orangtua yang bermaksud baik, semua bayi itu “rupawan” – setiap bayi itu istimewa. Orangtua secara alami memberikan optimis yang tinggi kepada bayi mereka yang baru lahir. Orangtua Musa, bagaimana pun, tidak hanya mengucapkan hal istimewa kepadanya, tetapi juga mempertaruhkan hidup mereka dalam upaya untuk menyelamatkan dia.

Kepahlawanan Musa di kemudian hari lebih daripada sekadar memenuhi impian dan harapan orangtuanya; demikian juga Thermuthis, putrid Ramses III, Firaun Mesir berikutnya, yang memandang kepada bayi yang menangis dalam keranjang yang mengapung dan terjamah oleh pancaran wajah-Nya (Keluaran. 2:6,7).

Kemudian, ketika Musa dewasa, oleh pengalaman pengasingan, menjadi hamba yang layak, Allah mengirim dia kembali ke Mesir dengan pesan : “Biarkan umat-Ku pergi.” Dengan demikian bayi yang rupawan itu menjadi pembebas yang berbakti --- sama dengan “Yesus,” tetapi hanya dalam perbandingan yang buram. Hal ini karena, sementara misi Musa membawa dia dari gurun tandus kepada istana Firaun, misi Yesus membawa Dia dari kemuliaan yang nyaman kepada wilayah tandus planet bumi.

Musa meninggalkan pengasingan; Yesus meninggalkan kemewahan. Musa meninggalkan kesepian; Yesus meninggalkan keindahan. Musa meninggalkan konsekuensi perbuatan jahat; Yesus meninggalkan keadaan kesempurnaan tertinggi dan keindahan. Tindakan-Nya merendahkan diri yang tulus tetapi menunjukkan hati-Nya yang penuh kasih membuat Dia menjadi Musa kita yang jauh lebih baik.

Posted in Renungan Pagi 2017.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *