Adam Yang Lebih Baik

"Renungan di pagi hari, adalah bacaan yang membekali
umat Tuhan, dalam melakukan aktivitas yang penuh dengan
tantangan dan cobaan hingga fajar merekah."
Rabu 12 July, 2017.

Bagaimana Yesus Tahu

Bagaimana Yesus tahu, Lentera dunia, Terang kecil“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai lblis” (Matius 4:7).

Beberapa orang menanyakan apakah Kristus, seperti Adam yang tidak jatuh, tidak memiliki sifat jahat yang dalamnya Anda dan saya dilahirkan jika Dia, seperti Adam, datang ke dunia tanpa kecenderungan jahat yang merupakan bawaan kita jika memang Dia tidak “dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (lihat Mazmur. 51:5), bagaimanakah bisa Dia benar-benar mengerti pergumulan saya dan berbicara mengenai hal itu kepada Bapa?
Jawabannya adalah Dia bisa melakukannya karena pergumulannya dengan pencobaan pada suatu waktu begitu kuat sehingga meskipun Ia tidak di bawah kendali dorongan bawaan untuk berdosa, intensitas kelaparan-Nya untuk kepuasan jasmani yang wajar (yaitu, makanan dan air) berdampak bagi-Nya seperti kekuatan yang mencerminkan keinginan jahat kita.

Sekali lagi pekabaran Ellen White sangat membantu: “Begitu Kristus memasuki pencobaan di padang gurun, roman muka-Nya berubah…. Dia merasakan gelombang besar kebinasaan yang membanjiri dunia. Dia menyadari kekuatan pemanjaan hawa nafsu dan keinginan yang tidak suci yang mengendalikan dunia, yang telah membawa kepada manusia penderitaan yang tak terkatakan” (Selected Messages, jld. l, hlm. 271).

Ketika Dia berpuasa atau kurang tidur karena waktu yang dia gunakan untuk bekerja dan berdoa, hasrat tubuh Yesus begitu menyakitkan dan berat. Tetapi keinginan ini bukanlah dosa; lapar untuk memenuhi kebutuhan yang wajar. Kita juga memiliki dorongan yang wajar. Tetapi selain itu kita juga memiliki dorongan untuk melampaui apa yang baik dan keinginan yang candu untuk apa yang jahat.

Yesus tidak perlu menjadi kecanduan alkohol demi mengetahui teriakan tubuh yang kesakitan untuk mendapat kepuasan. Kebutuhan yang wajar untuk makanan setelah 40 hari berpuasa jelas. Dia tidak perlu secara alami berorientasi kepada mementingkan diri sendiri untuk memahami kecenderungan kita ke arah itu. Pergumulan-Nya dengan pilihan untuk “menerima mahkota tanpa salib” yang ditawarkan Setan kepada-Nya di padang gurun menggoda sifat kemanusian-Nya. Dia tidak perlu melakukan dosa untuk memaharni rasa bersalah dan rasa malu kita.

Keterasingan-Nya dari Bapa di Getsemani dan di atas kayu salib sepenuhnya memperkenalkan Dia kepada kondisi ini.
Yesus diperdaya dan dicobai oleh Setan pada waktu yang nyata, dalam daging yang nyata, dan dalam keadaan yang nyata, dan karena itu Ia memiliki pengetahuan yang nyata mengenai situasi kita. Karena hal ini Dia datang untuk menjadi teladan kita yang murni, korban kita yang sempurna, Adam kita yang sungguh lebih baik.

Posted in Renungan Pagi 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *