Terang Kecil

Kurban Anak Domba Allah

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Yohanes 1:29.

Kurban Anak domba AllahDalam sejarah kehidupan spiritual manusia, sistem hewan kurban di mulai sejak manusia jatuh dalam dosa. Di saat itu, pada waktu Adam dan Hawa kehilangan pakaian kemuliaannya, maka usaha mereka untuk menutupi tubuhnya dengan membuat anyaman daun pohon ara sebagai penutup badan mereka.

Akan tetapi Allah menyiapkan pakaian dari kulit binatang, untuk menggantikan pakaian yang mereka buat, dengan demikian Allah melakukan penyembelihan hewan atau kurban, untuk mendapatkan pakaian yang lebih baik dari daun pohon ara, agar ketelanjangan mereka akibat dosa, menyebabkan kehilangan kemuliaan Allah, ditutupi dengan bahan pakaian yang di siapkan oleh Allah.

Sejak saat itulah mulainya kurban atau penumpahan darah hewan terjadi, akibat pelanggaran Adam dan Hawa. Dan hal itu merupakan satu lambang dari apa yang harus dilakukan oleh manusia agar pakaian kemuliaan Allah yang hilang, hanya dapat diperoleh kembali melalui kurban atau penumpahan darah. Akibat dari pelanggaran mereka, untuk pertama kalinya Adam yang tidak pernah mengetahui tentang kematian dan darah tercurah dari hewan yang tidak bersalah, dia harus merasakannya.

Hewan yang sebelum jatuh dalam dosa, menjadi sahabat mereka di taman yang indah dan asri itu, tetapi sekarang di dalam cengkeraman tangan yang tidak pernah melakukan pembunuhan bahkan kekerasan ini, menyembelih hewan sebagai kurban, dan mata yang belum pernah melihat darah tercurah, harus melihat darah tercurah di lakukan oleh tangannya sendiri, sungguh sangat menyayat hati, akibat dari pelenggaran hukum Allah.

Penyembelihan hewan kurban ini sejak semula dilakukan oleh kepala rumah tangga, sekaligus ia bertindak sebagai imam dalam memimpin upacara ritual itu. Upacra ini menjadi suatu lambang pendamaian antara manusia yang berdosa dengan Allah, yang dilakukan dari generasi pertama Adam, Nuh, Abraham, sampai pada saat malam terakhir sebelum bani Israel keluar meninggalkan mesir.

Pada waktu bani Israel berada di padang gurun, Allah memberi perintah kepada Musa, untuk mendirikan Kaabah dan aturan-aturan tentang upacara kurban dan lainnya (Keluaran 25). Jadi Allah melembagakan sistem kurban, dimana Kaabah sebagai pusat kegiatan dari ritual hewan kurban. Didalam Kaabah itulah upacara ritual keagamaan kurban sembelihan dilakukan oleh imam-imam. Untuk kegiatan kurban harian dilakukan oleh imam biasa, kemudian setahun sekali dimana darah hewan kurban di bawah masuk ke bilik yang Maha Suci, dan hewan kurban yang sudah mati ini di bakar diluar perkemahan bani Israel, ritual ini dipimpin langsung oleh seorang imam besar, upacara tahunan ini disebut Hari Raya Pendamaian.

Yang menjadi pertanyaan adalah “apakah darah hewan kurban dapat mendamaikan manusia dengan Allah?” atau “darah hewan yang tertumpah itu dapat menghapus dosa manusia?” atau “apakah hewan lebih berharga dimata Allah dari pada manusia, sehingga dapat menjadi penebus dosa kita? Atau “hewan kurban itu tidak berharga sehingga kita dapat menimpahkan segala dosa kita kepadanya?” sekali lagi atau “apakah darah hewan kurban dapat menyucikan orang berdosa?” itulah pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan sitem kurban, melalui peyembelihan hewan.

Ibrani 9:9. “ Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka,” jika upacara hewan kurban tersebut adalah kiasan! Tentunya ada maksud dari kiasaan itu yang harus kita pahami. Dalam sistem upacara kurban harian, yang melakukan penyembelihan hewan adalah orang yang melakukan dosa atau yang melanggar hukum Allah, ia menumpangkan tangannya pada hewan kurban dan menyembelih hewan tersebut. Kematian hewan karena darahnya tercurah itu, menuntun pikiran orang tersebut kepada pelanggaran hukum Allah yang mengakibatkan kematian. Dan darah yang tercurah itu merujuk pada darah Yesus yang tertumpah di kayu salib.

Tindakan penyembelihan hewan kurban, orang berdosa mengakui kesalahannya yang di wujudkan dalam imannya dengan memandang ke salib untuk suatu korban yang lebih sempurna dari Anak Allah. Tanpa pengorbanan Anak Allah, tidak ada penebusan, tanpa penebusan, tidak ada keselamatan.

“Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Yohanes (1:29) berkata demikian karena memandang kedepan, kepenyaliban Yesus, sebagai korban sesungguhnya yang mendamaikan manusia denga Allah. Upacara kurban adalah kiasan, lambang, atau bayangan menjadi nyata saat penyaliban Yesus.

Ibani 9:28. Mengatakan bahwa Yesus mengorbankan dirinya untuk menanggung dosa banyak orang, dengan darahnya sendiri yang tercurah, Ia menyucikan dan mendamaikan manusia dengan Allah………

Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah ditahirkan secara demikian, tetapi benda-benda sorgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik dari pada itu yaitu Yesus Kristus. Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. Ibrani 9:22 – 24.

Dengan bertemunya kiasan, simbol, lambang, atau bayangan dengan yang nyata, yaitu kematian Yesus Kristus di salib, maka sejak saat itu upacara hewan kurban tidak perlu diadakan, karena Yesus telah lakukan sekali untuk selamanya (Ibrani 9:26).

Posted in Lentera Dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *