Musa Yang Lebih Baik

"Renungan di pagi hari, adalah bacaan yang membekali
umat Tuhan, dalam melakukan aktivitas yang penuh dengan
tantangan dan cobaan hingga fajar merekah."
Selasa 20 Juni 2017.

Lihat dan Hidup

Lihat dan hidup, Lentera dunia, Terang dunia“Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.”
(Bilangan 27:9)

Upah dosa adalah maut, dan sejak dari permulaan pelanggaran, umat manusia telah dikunci dalam ragum rasa sakit, pertumpahan darah, dan segala elemen bencana lain yang merupakan ketidaknyamanan yang baik yang Allah ciptakan.

Pengharapan? Tidak ada pengharapan—pengharapan duniawi. Adam tidak bisa mencegah wabah kematian dan kehancuran, tidak juga dengan anak cucunya yang menderita. Umat manusia, berdasarkan kejatuhannya, adalah benar benar,selamanya terkutuk. Kita adalah ras yang ditakdirkan untuk punah. Jika saja Kristus tidak datang ke dunia kita seperti yang Dia lakukan, keadaan fisik, moral, dan mental kita akan segera jauh lebih lumpuh dan akhirnya binasa.

Kita bukanlah ras yang ditakdirkan untuk hidup dalam pertumpahan darah dan rasa sakit; kita adalah umat yang pasti akan mati—tersedak tak bernyawa oleh ikatan otot sebagai konsekuensi dosa. Hal ini membuat tanggungan ganda: Kematian pertama akibat dari kelahiran alamiah kita dan yang kedua sebagai akibat dari kesalahan pribadi kita.

Tetapi Yesus “membungkamkan musuh dan pendendam” (lihat Mazmur. 8:2). Seperti halnya ular Musa yang menjadi titik temu yang kepadanya semua orang yang digigit ular—yang sekarat oleh karena kelenjar bengkak dan gagal jantung—dapat memandang dan dibuat pulih kembali, demikian juga kesehatan dan kesembuhan disediakan di kayu salib untuk semua orang yang mau melihat dan hidup.

Ular Musa yang disalibkan adalah sumber keselamatan hanya kepada mereka yang melihat dalam iman. Mereka yang didapati berpikir secara ilmiah, filosofis, atau yang lainnya, yang memiliki alasan teoritis untuk meragukan khasiat salib di mana terdapat simbol dari makhluk yang melanda mereka mati karena kurangnya iman. Mereka yang memandangnya-hidup! Dan demikian juga kita jika kita tetap setia dan tidak takut.

Sebagaimana ular tembaga yang tampak seperti yang lainnya tetapi berdasarkan komposisi logamnya ia menanggung beban yang berbeda, demikian juga dengan Yesus yang datang “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (Roma. 8:3) oleh keilahian-Nya yang tidak mengenal kompromi dan kemanusiaan-Nya yang tidak terkontaminasi berbeda dari mapusia berdosa. Inilah sebabnya mengapa dan bagaimana kita dapat dan harus melihat kepada Kristus di Golgota yang disalibkan dengan tangan terbuka sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, kesembuhan, dan kekudusan kita.

Posted in Renungan Pagi 2017.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *