Musa Yang Lebih Baik

"Renungan di pagi hari, adalah bacaan yang membekali
umat Tuhan, dalam melakukan aktivitas yang penuh dengan
tantangan dan cobaan hingga fajar merekah."
Minggu 11 Juni 2017.

Melakukan Yang Mustahil

Melakukan yang mustahil, Lentera dunia, Terang kecil“Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras membuat laut itu menjadi tanah kering, maka terbelahlah air itu” (Keluaran 14:21)

Membelah Laut Merah adalah pertunjukkan kuasa Allah yang tak tertandingi dalam seluruh sejarah bangsa Israel. Dalam hal kegembiraan dan pertunjukkan kekuatan Allah, tidak ada dalam sejarah Israel sebelum atau yang kemudian yang setara pelarian mereka dari tentara Mesir. Bahkan menyebrangi sungai Yordan, yang menyelesaikan perjalanan mereka masuk ke Kanaan, gagal menyamai dramatisnya.

Konsekuensi merupakan akhir bagi bangsa Israel yang juga fatal bagi Firaun. Akhir dalam hal ini menandai kelahiran Israel sebagai sebuah bangsa yang tidak pernah kembali ke perbudakan Mesir, berakibat fatal karena melibatkan pembantaian bagi orang Mesir terbaik – tentara yang begitu kejam menindas mereka.

Kita kadang-kadang dihadapkan dengan pengalaman Laut Merah sebagai sesuatu yang tampaknya tidak dapat dihadapi – saat ketika kita merasakan lautan kesulitan dihadapan kita, sementara musuh , kekuatan yang lebih unggul ada di belakang kita – dengan kata lain, kesulitan yang darinya kelihatan tidak mungkin untuk melarikan diri. Tetapi jika kita sensitive secara rohani, kita segera menemukan bahwa “keadaan kita yang ekstrem adalah kesempatan bagi Tuhan,” bahwa “Tuhan akan membuat jalan entah bagaimana caranya,” bahwa Dia akan membuang hambatan juga, jika Dia menganggap pencobaan itu baik untuk kita, memberi kita kekuatan untuk bertahan. Kedua cara, dengan izin-Nya kita akan memperoleh kekuatan rohani yang sangat penting untuk keberhasilan kita dalam menghadapi musuh jiwa kita, dan bahwa (secara manusia) melakukan sesuatu yang mustahil.

Lebih sering daripada yang kita ketahui, Dia telah menjawab sebelum kita memanggil. Lebih sering daripada yang kita sadari , Dia telah mengarahkan kita melalui dan menghindari bahaya yang kita tidak sadari, dan lebih banyak dari pada ucapan syukur kita kepada-Nya, Dia telah membelah lautan kesulitan dan membawa kita melalui tanah yang kering.

Ketika kita berdiri di kemenangan terakhir dihadapan laut kaca, sukacita kita yang terbesar, paling megah, dan yang paling mulia tidak pada fakta-fakta kelepasan fisik, keuangan, dan social yang kita telah alami; tetapi pada kelepasan rohani kita dari kerajaan kegelapan oleh kerajaan kasih karunia ke dalam kerajaan kemuliaan – semua dilakukan oleh Yesus Kristus, pemimpin kita yang gagah berani, berkat kita, Musa yang lebih baik.

Posted in Renungan Pagi 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *