Musa Yang Lebih Baik

"Renungan di pagi hari, adalah bacaan yang membekali
umat Tuhan, dalam melakukan aktivitas yang penuh dengan
tantangan dan cobaan hingga fajar merekah."
Sabtu 10 Juni 2017.

Permulaan Yang Tenang

Permulaan yang tenang, Lentera dunia, Terang kecil“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Lukas 2:40).

Latar belakang masa kecil Yusuf dan Daud (keduanya anak gembala) dan Elisa (anak seorang petani) menyatakan dengan jelas manfaat yang mereka peroleh dari lingkungan yang tenang (alam) terhadap perkembangan awal karakter mereka. Dalam menjelaskan tinggalnya Musa selama 40 tahun di padang gurun, Ellen White menulis: “Di sekolah-sekolah militer di Mesir, Musa diajari hukum kekerasan dan begitu kuat ajaran ini melekat pada tabiatnya sehingga ia memerlukan empat puluh tahun yang tenang dan mengadakan hubungan dengan Allah dan alam, untuk melayakkan dia menjadi pemimpin bangsa Israel dengan hukum kasih” (Membina Pendidikan Sejati, hlm. 59).

Yesus, Musa kita yang lebih baik, juga disiapkan dalam cara yang tidak mudah dimengerti. Dia tumbuh dan bertambah dewasa di kota Nazaret yang tenang jauh dari lintas kesibukan kehidupan kota. Dia seharusnya tidak memerlukan pengembangan sifat dasar kerohanian-Nya, yang tentu saja adalah sempurna untuk memulai segalanya. Karakternya, bagaimanapun, adalah sesuatu yang harus dikembangkan. Hal itu penting bagi Dia, sebagaimana Dia bertumbuh dalam fisik, juga bertumbuh dalam kemampuan untuk memenuhi tantangan yang semakin besar yang Setan tumpahkan kepada-Nya.

Musa perlu dikagumi karena perubahan karakternya – Yesus untuk perkembangan elemen karakter-Nya yang tidak ternoda tanpa gangguan sama sekali yang dengannya Dia memulai segalanya. Musa perlu dihormati atas kesabarannya bertahan di padang gurun pengasingan – Yesus harus selamanya dipuji karena penderitaan-Nya untuk tinggal di padang gurun manusia yang berdosa.

Adalah karakter kemanusiaan Kristus, bukan kemampuan Ilahi-Nya, yang dicobai dalam pertemuan-Nya dengan pencela-Nya. Kekuatannya karakter bukanlah karunia. Hal tersebut dipelajari dan diperoleh. Ketika Dia menurut kepada kehendak Bapa-Nya, kapasitas-Nya untuk kemenangan rohani bertumbuh bersamaan dengan kredibilitas-Nya sebagai Anak Domba Allah yang tak bercacat.

Tingkatan perkembangan karakter kita tidak akan pernah sama dengan Yesus, tidak juga akan (sebelum penutupan pintu kasihan) setara dengan kelemahlembutan Musa yang perkasa. Namun demikian, kita perlu dan harus berusaha dengan seluruh kekuatan kita untuk meniru teladan mereka dengan menyadari bahwa dalam pemeriksaan terkahir, bukan ketaatan kita yang menyelamatkan, melainkan kebenaran Kristus yang sempurna, kebenaran Dia tempa dan diperkaya di tengah kesunyian di permulaan yang tenang.

Posted in Renungan Pagi 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *