Terang Kecil Menuntun Kepada Terang Besar

Salib Dan KeKristenan

Salib dan KeKristenanTetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan. 1 Korintus 1:23.

Salib adalah istilah yang diambil dari kata Grika yaitu “stauros” yang diterjemahkan “tiang kayu” atau “salib” yang berarti kayu bersilangan berbentuk X, atau T. Penyaliban menjadi karakteristik tentara Roma untuk menghukum kepada seseorang yang pantas dihukum, pada zaman itu. Hukuman dalam bentuk penyaliban biasanya diterapkan kepada, budak, penjahat dan orang-orang hukuman yang bukan warga negara Roma.

Hukuman penyaliban, dimana orang yang menjalani penyaliban, harus digantung berhari-hari dalam keadaan hidup ditiang kayu yang didirikan berbentuk X atau T, hingga menemui ajalnya. Ini adalah salah satu bentuk hukuman yang paling kejam. Maksud dari pada penyaliban itu sendiri, bukanlah kematian, tetapi penderitaan yang amatsangat, sehingga terpidana mengharapkan untuk segera mati. Jadi penyaliban adalah lambang dari penderitaan yang tak tertahankan, penjahat, dan pelanggar hukum pada saat itu. bahkan orang-orang Yahudi menganggap orang yang digantung disalib itu terkutuk.

Di dunia Kekristenan Salib, menjadi satu lambang relijius yang mana Yesus Kristus menjadi salah satu korban dari penyaliban pada saat itu. Dalam proses peradilan Pilatus yang dijalani Yesus Kristus, ia tidak mendapati kesalahan apapun dari pada-Nya (Matius 27:23), sehingga Ia layak dihukum, apalagi dihukum dengan cara penyaliban. Genaplah ayat Alkitab mengatakan bahwa Ia, terhitung sebagai orang durhaka, dan pemberontak (Yesaya 53:12; Markus 15:28).

Dengan demikian orang yang disalibkan memiliki pengertian terkutuk, pemberontak, orang durhaka, atau penjahat. Dengan matinya Yesus, melalui penyaliban, maka Ia tergolong pemberontak, orang durhaka atau penjahat. Apakah ini terjadi akibat dari perbuatan-Nya ? …. Oh tidak …. Tidak …. Tidak …. Ia tergantung di kayu salib, Ia tertikam, Ia menderita oleh karena bilur-bilur kita, Ia dicemooh, bahkan sampai mati di kayu salib, oleh karena dosa-dosa umat manusia (Yesaya 53). Ia mengganti tempat kita, yang semestinya kita berada pada tempat tersebut.

Ia dicemooh, dicambuk, kepala-Nya tertusuk oleh duri, tangan dan kaki-Nya tertembus oleh paku, lambung-Nya terkoyak oleh tombak, dan Ia dikutuki, tetapi semuanya itu di tanggung-Nya hanya untuk menyatakan kasih Allah yang tak dapat diselami oleh umat manusia. Dengan matinya Ia disalib, Ia dapat menyelamatkan manusia, demikianlah firman yang terdapat dalam buku Galatia 3:13. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib.

Seperti ayat tema diatas mengatakan salib adalah batu sandungan dan kebodohan, tetapi dengan matinya Yesus Kristus di kayu salib, itu menjadi symbol atau momentum yang terbaik bagi umat manusia untuk berdamai dengan Allah. Penyaliban-Nya adalah cara terbaik yang dijalani oleh Yesus Kristus, sebagai korban pendamaian yang sempurna antara manusia dengan Allah. Tidak ada jalan lain, selain salib untuk melakukan rekonsiliasi denga Allah. Melalui penyaliban Yesus Kristus maka berkat yang dijanjikan kepada Abraham bisa sampai kepada bangsa-bangsa lain (Galatia 3:14).

Yesus tergantung disalib antara bumi dan surga, diatara kemanusiaan dan keIlahian; itulah korban penebus dosa yang sepurna. Melalui pengorbanan-Nya, tercipta pendamaian antara Allah dan manusia. Bila seseorang telah hidup dalam dosa, melanggar perintah-Nya, dapat didamaikan, jika mereka memandang ke penyaliban Yesus kristus, bertobat, dan menerima pendamaian yang dilakukan Yesus kristus untuk dosa mereka.

Salib tanpa Kristus, adalah ceritra tentang alat menghukum, terhadap para penjahat oleh tentara Roma, tetapi karena Kristus, maka salib menjadi lambang kemenangan, keselamatan, penebusan, harapan, dan kasih karunia Allah, bagi umat manusia.

Menghilangkan salib dari kekristenan, itu seperti menghapuskan matahari yang menerangi hari, dan menjatuhkan bulan dan bintang dari cakrawala langit di malam hari (OHC 46.2).

Posted in Lentera Dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *