Hati Yang Berelimpahan

Salib Kalvari : Kasih Karunia

Salib, kasih karunia, Lentera dunia, Terang kecil“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53:5.

Orang-orang Roma tidak membuat salib. Namun mereka mengambil alih, dan menggunakannya selama berabat-abat untuk menghalangi secara efekif pihak oposisi terhadap kekaisaran.

Salib itu cocok dengan tujuan mereka secara ideal. Salib itu dapat menjadi alat eksekusi secara terbuka yang sangat unggul (ampuh). Para pemberontak terhadap Pax Romana diarak melalui jalan-jalan dengan membawa salibnya atau ada seseorang membawakannya. Para pejalan yang lain dapat melihatnya – dan merasa gentar. Tempat untuk melaksanakan eksekusi itu sendiri juga merupakan tempat umum yang terbuka. Mereka membiarkan kerumunan orang itu untuk melihat nasib dari orang yang berani bangkit melawan Roma! Dan kematian akan tiba dengan perlahan-lahan. Korban itu mungkin saja dapat tergantung selama berhari-hari dipakukan atau diikat ke salib, dan terpanggang sinar matahari sehingga kehilangan cairan tubuh yang menyebabkan kematian.

Orang-orang Roma itu seringkali menggunakan salib, tetapi tidak pernah dipergunakan untuk menghukum warga negaranya sendiri. Kalau Kaisar kadangkala tidak ingin mengikuti cara ini, maka akan terjadi kekerasan dan kerusuhan yang menyebar sebagai protes. Salib itu adalah lambang dari rasa malu, dan kehinaan, terlalu menggegerkan bagi seorang penduduk Roma. Rasul Paulus, sebagai contohnya, adalah seorang Roma, dan tidak di salibkan, dia dibunuh dengan menggunakan pedang.

Tetapi Yesus dari Nazaret itu, bukanlah warga negara Roma, tentu dapat disalibkan, dan memang demikian jadinya untuk Dia.

“Anak Allah yang tidak bercacat-celah tergantung disalib, daging-Nya disobek dengan pukulan, tangan yang sering direntangkan untuk memberkati, dipakukan pada kayu palang, kaki yang tidak mengenal jerih lelah dalam pelayanan kasih, dipakukan kesalib, kepala Raja ditembusi makota duri, bibir yang gemetar mengucapkan seruan malapetaka. Dan segala sesuatu yang diderita-Nya – tetesan darah yang mengalir dari kepala-Nya, tangan-Nya, kaki-Nya, kesengsaraan yang menyiksa tubuhnya, serta kepedihan yang terperikan memenuhi jiwa-Nya, ketika wajah Bapa disembunyikan – berbicara kepada setiap anak manusia, menyatakan. Bagimulah Anak Allah rela menanggung beban kesalahan ini, bagimulah ia merusakkan kerajaan kematian, dan membuka gerbang Firdaus. Ia yang mendiamkan lautan yang bergelora dan berjalan diatas ombak yang berbuih, yang menyebabkan setan-setan gemetar dan penyakit lenyap, yang mencelikkan mata yang buta dan membangkitkan orang mati, mempersembahkan diri-Nya diatas salib sebagai korban, dan hal ini disebabkan oleh kasih bagimu. Ia, Penanggung dosa menderita murka keadilan Ilahi, dan untuk kepentinganmu menjadi dosa dengan sendirinya.” (Alfa dan Omega, jld. 6. Hal. 407)

Posted in Kasih Karunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *