Musa Yang Lebih Baik

"Renungan di pagi hari, adalah bacaan yang membekali
umat Tuhan, dalam melakukan aktivitas yang penuh dengan
tantangan dan cobaan hingga fajar merekah."
Rabu 21 Juni 2017.

Tuhan dalam Samaran

Tuhan dalam samaran, Lentera dunia, Terang kecil“Sesudah itu mendekatlah segala orang lsrael, lalu disampaikannyalah kepada mereka segala perintah yang diucapkan TUHAN kepadanya di atas gunung Sinai. Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah mukanya.” (Keluaran 34:32, 33)

Musa adalah satu lambang dari Kristus. Sebagaimana pengantara Israel itu menudungi wajahnya, oleh karena orang banyak itu tidak tahan untuk melihat kemuliaannya, demikian juga Kristus, Pengantara Ilahi itu menudungi keilahian-Nya dengan kemanusiaan pada waktu datang ke dunia ini” (Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 389). Kita tidak akan pernah memahami kehebatan sikap merendahkan diri Kristus dari Allah yang sebenarnya menjadi Allah yang diselubungi manusia yang sebenarnya, atau, dengan pernyataan lain, dari yang berdaulat menjadi budak, dari Pencipta menjadi ciptaan dari penguasa menjadi makhluk berdosa yang hancur. Bagaimanakah mungkin? Bagaimanakah Dia bisa mengasihi kita sedemikian rupa? Hal ini tidak masuk akal, tidak bisa dimengerti, luar biasa, tetapi benar bahwa Yesus, Musa kita yang lebih baik, menemukan cara untuk menjadi salah satu dari antara kita—untuk hidup bersama kita—membangkitkan roh kita yang padam, memulihkan kecerdasan kita yang memudar, dan membangunkan kembali hubungan kita dengan Bapa yang menebus sebuah planet terasing.

Sementara menyelubungi keagungan-Nya yang luar biasa, Dia mengungkapkan karunia Bapa yang luar biasa. Sementara memadamkan sinar kemuIiaan-Nya, Ia mengungkap rencana Setan yang menyeramkan. Sementara menyembunyikan kemilau cahaya-Nya, Dia mengungkapkan kejahatan Setan. Sementara dengan menderita mengekang kekuatan surgawi-Nya, Ia dengan sabar mengangkat kesengsaraan manusia, dengan berani menghadapi kekuatan kekuatan yang memenjarakan ras kita yang malang dan sekarat.

Fakta bahwa manusia lahiriah mampu mengandung Tuhan di dalamnya dan Tuhan di dalam mampu menahan murka-Nya yang mutlak terhadap dosa sangat menakjubkan untuk mata kita dan keselamatan untuk jiwa kita; Mengapa Dia mau mengambil risiko dengan begitu berani untuk kita? Karena tidak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan kita; hanya dengan menjadi fana tetapi menang dalam lingkup manusia kita Dia dapat baik membela karakter Bapa maupun memberikan pengampunan dan pemulihan kepada kondisi kita yang hilang.

Semak Musa yang terbakar; busur pelangi Nuh, tangga penghubung Yakub, ular tembaga Israel, kehadiran Shekinah di bait suci, dan cahaya efod Imam Besar semua menunjukkan bahwa Allah, setelah kejatuhan ke dalam dosa yang tidak dapat lagi berbicara tatap muka dengan penduduk dunia, telah menemukan cara untuk menjembatani jurang besar yang diciptakan oleh dosa dan akan menebus ciptaan yang hilang ini.

Posted in Renungan Pagi 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *