Terang Kecil Menuntun Kepada Terang Besar

Yesus Kristus dan Hukum Moral (Sepuluh Hukum)

Yesus dan hukum moralPengertian umum tentang hukum adalah undang-undang atau peraturan, dan sebagainya, yang mengatur tata cara kehidupan bermasyarakat. Jika anggota masyarakat tidak mematuhinya berarti ia melanggar ketentuan yang berlaku. Pada zaman dahulu seorang raja apabila ia membuat suatu perintah, itu menjadi hukum dan siapa saja yang tidak mematuhinya pastilah dihukum, karena telah melanggar titah raja.

hukum Tuhan ada sebelum manusia diciptakan. malaikat diatur oleh hukum itu. Setan jatuh karena ia melanggar prinsip-prinsip pemerintahan Ilahi. setelah Adam dan Hawa diciptakan, Tuhan memberitahukan kepada mereka hukum-Nya. itu tidak kemudian ditulis, tapi dilatih kepada mereka oleh Yahwe. - [SR.145.1]

Hukum moral (supuluh hukum) sejak di taman eden sampai pada waktu orang Israel keluar dari Mesir, diturunkan dari mulut ke mulut dari generasi ke generasi berikutnya, akan tetapi kondisi fisik manusia terus merosot akibat dosa, dengan demikian mempengaruhi kemampuan atau daya pikir manusia untuk menghayati, dan mengamalkan akan hukum Allah, sebagai panduan dalam kehidupan berjamaah.

Pada waktu Musa berada bersama-sama Allah di atas gunung Sinai, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan dan minum (Keluaran 34:28). Pada saat itu Allah memberikan hukum moral (sepuluh hukum) yang ditulis-Nya sendiri kepada musa dan memerintahkan agar ditempatkan di dalam tabut perjanjian, sedangkan hukum upacara, Allah berfirman, Musa menuliskannya dan ditempatkan diluar tabut perjanjian…….. Dan mereka berjanji untuk melakukan segala perintah Tuhan (Keluaran 19:8), tetapi mereka gagal (Kisah 7:53).

Hukum moral atau sepuluh hukum terbagi menjadi dua bagian yaitu: bagian pertama (1 – 4) perihal kesetiaan manusia kepada Allah, dan bagaian kedua (5 – 10) adalah kesetiaan sesama manusia. Bagian pertama mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita, dan bagian kedua mengasihi sesama manusia seperti, mengasihi diri kita sendiri (Matius 22:36 – 40).

Yesus datang ke dunia ini untuk menunjukkan karakter Allah yang kudus, seperti yang ditunjukkan oleh hukum-Nya yang Kudus (Roma 7:12). Hukum-Nya adalah transkrip dari karakter Allah. Yesus datang kedunia ini adalah kabar baik, dan hukum itu sendiri dihidupkan dalam diri-Nya, kasih kepada Allah Bapa dan kasih kepada manusia. Yesus, Juruslamat itu, menuntun orang untuk taat kepada hukum Allah, dimana karakter atau tabiat mereka terbentuk melalui penurutan akan hukum-Nya yang berdasarkan kasih kepada Allah ( 1 Yohanes 5:3).

Hukum-Nya merujuk kepada Kristus, Kristus merujuk kepada hukum-Nya. Yesus memanggil orang-orang untuk bertobat –- bertobat dari apa ? –- dari dosa ? –- apa itu dosa ? dosa adalah pelanggaran hukum Allah (1 Yohanes 3:4), Ini adalah satu-satunya definisi dosa. Tanpa hukum tidak ada pelanggaran. Melalui hukum orang dapat mengenal dosa. Hukum ini adalah Standar kebenaran yang luas, yang melarang setiap hal yang jahat. Yesus berkata, jika kita mengasihi-Nya kita akan turut perintah-perintah-Nya (Yohanes 14:15), yaitu mengasihi Allah dan sesama manusia sebagai wujud nyata.

Kemuliaan Yesus Krsitus adalah karakter-Nya, dan karakter-Nya adalah ekspresi dari hukum Allah. Dia nyatakan hukum itu dalam setiap aspek kehidupan-Nya, dan Dia memberikan hidup-Nya kepada dunia, sebagai satu pola atau contoh yang sempurna, dari apa yang mungkin bagi manusia untuk mencapainya melalui kesetiaan kepada Yesus dan penurutan akan hukum-Nya. Jadi hukum Allah adalah eksponen karakter-Nya, dan ekspresi kekudusan-Nya.

Setiap orang Kristen bisa mengatakan saya diselamatkan, saya percaya kepada Yesus Kristus bahwa Dia adalah Juruslamat saya, tetapi masih hidup dalam pelanggaran hukum-Nya, mereka mengabaikan hukum-Nya yang merupakan transkrip dari karakter-Nya? Ketika mereka mangacuhkan hukum Allah, berarti mereka mengabaikan Yesus Kristus.

Sebagai orang Kristen, pengikut Yesus Kristus, kita mengasihi-Nya dengan menuruti perintah-perintah-Nya. Menuruti perintah-Nya seluruhnya bukan sebagian, jika kita meniadakan sebagian sama halnya kita tidak menuruti hukum-Nya (Yakobus 2:10). Dengan demikian kita mengulangi kesalahan yang sama dengan Orang Israel. Pada waktu itu mereka menerima hukum Allah, tetapi menolak Yesus Kristus sebagai Juruslamat. Pada zaman ini, banyak orang yang mengaku Kristen, percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruslamat mereka, tetapi menolak hukum-Nya. kesalahan yang sama terulang kembali oleh orang Israel Spiritual (Kristen) pada masa kini.

Dengan demikian hukum moral dan Yesus Kristus, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Suatu bukti nyata bila kita percaya, mengasihi-Nya, dan sesama manusia adalah melalui kesetiaan kita dalam penurutan kepada hukum moral-Nya (Roma 13:8 – 10).

Posted in Lentera Dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *