Terang Kecil Menuntun Kepada Terang Besar

Yesus Kristus dan Hukum Upacara

Yesus dan hukum upacara, Lentera dunia, Terang dunia"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Matius 5:17.

Apabila kita berbicara tentang hukum didalam Alkitab, maka kita akan dapatkan dua hukum yang sering dikhotbahkan, yaitu hukum upacara dan hukum moral atau sering disebut sepuluh hukum. Kedua hukum ini sering diperbincangkan dengan hangat di kalangan orang-orang Kristen tentang peranan dan fungsi kedua hukum ini.

Hukum upacara dan hukum moral diberikan secara tertulis kepada orang Israel, pada saat mereka berada di padang belantara, di saat mereka berhenti dan berkemah di padang gurun Sinai (keluaran 19 – 40). Hukum upacara difirmankan Allah dan ditulis Oleh Musa, sedangkan hukum moral atau Sepuluh Hukum, dua loh batu pertama, Allah sendiri yang meyiapkan (Keluaran 32:16), akan tetapi kedua loh batu itu pecah, karena amarah Musa saat mengetahui bahwa orang Israel menyembah patung lembuh emas. Allah berfirman kepada musa untuk membuat dua loh batu baru dan Allah menuliskan kembali Sepuluh Hukum-Nya.

Hukum upacara, sudah dipraktekan semenjak mausia jatuh dalam dosa. Upacara korban sembelihan hewan yang tidak bercacat ini, dilaksanakan dari gerenasi kegenerasi. Dari adam, Habel, Nuh, Abraham, dan Musa, sampai kepada zaman Yesus Kristus. Seluruh tata cara upacara hewan korban ini sudah diatur dan tertulis pada saat orang-orang Israel berada di padang gurun Sinai. Dimana mereka melaksanakan upacara korban ini yang merupakan gambaran dari korban yang sesungguhnya.

Hukum upacara ini dilembagakan dan berpusat pada kaabah, baik pada zaman musa, maupun Salomo, hingga zaman Yesus Kristus. Orang yang berdosa menyiapkan hewan korban pendamaian yang tidak bercacat dan membawa kepada imam di kaabah, kemudian orang berdosa tersebut menumpangkan tangan kekepala hewan korban tesebut, lalu ia menyembelinya, dan imam akan menampung darah hewan korban tersebut dan memercikkan pada mezbah, bagian sisa darahnya ditumpahkan dibawah mezbah. Dan bagian tubuh hewan tersebut dibakar diatas mezbah. Dengan upacara korban ini, orang yang meyembelih hewan korban dituntun pikirannya kemasa depan.

Upacara korban itu adalah lambang pengorbanan Juruslamat yang akan datang itu. Dengan upacara korban ini, yang merupakan manifestasi daripada iman umat-umat Tuhan pada saat itu, kepada korban yang sesungguhnya sebagai Juruselamat umat manusia, yaitu Yesus Kristus. Ini adalah bayangan dari apa yang akan datang, karena tidak mungkin, darah hewan yang tidak bercacat dan bersalah dapat menebus dosa manusia (Ibrani 10:4).

Pada usia dua belas tahun, untuk pertama kali Yesus mengikuti upacara Paskah di kaabah bersama orang tua-Nya. Ia melihat imam berpakaian jubah putih melaksanakan upacara korban paskah dengan dengan begitu khidmat. Ia memandang korban yang tertumpah darahnya diatas alatar pengorbanan. Dan imam sambil sujud berdoa disertai oleh jemaat yang mengikuti upacara tersebut, asap pedupaan naik membumbung tinggi dihadapan Allah. Ia memperhatikan upacara yang mengesankan itu.

Ia (Yesus) mendapatkan suatu gambaran yang jelas dari upacara itu, setiap proses dari upacara itu berhubungan langsung denga diri-Nya. timbul getaran – getaran baru dalam diri-Nya. Ia terdiam dan menyerap, dengan seksama mempelajari rahasia besar dari upacara itu. misteri dari tugas-Nya sebagai Juruslamat disingkapkan pada-Nya. (DA. Bab.8)

Pada waktu Yohanes melihat Yesus, ia berseruh “ Lihat Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Karena melalui kematian Yesus di kayu salib, maka ayat ini mempertemukan akan upacara korban yang merupakan bayangan dengan korban yang sesungguhnya “Anak domba Allah.” Melalui penumpahan darah Yesus Kristus di kayu salib. Dengan demikian hukum upacara yang merupakan bayangan dari yang sesungguhnya tidak lagi dilakukan sebab Ia telah menggenapinya ( Efesus 2:15). Demikianlah hukum upacara menuntung manusia dengan iman hingga kedatangan, dan kematian-Yesus di kayu salib (Galatia 3:24.)

Secara praktis Umat Tuhan (Kristen) tidak lagi melakukan hukum upacara korban, namun spirit dari hukum upacara tersebut tetap hidup, karena dengan mempelajari hukum upacara pada perjanjian lama kita akan dapat memahami dengan baik akan rencana keselamatan dan pengorbanan Yesus Kritus di kayu salib, karena Dia adalah kegenapan hukum taurat (Roma 10:4).

Tanpa mempelajarinya, maka Hidup keagaman kita, bagaikan kapal tanpa kemudi yang berada ditengah lautan bebas, terombang-ambingkan oleh gelombang laut. Mengetahui tujuan tetapi tidak akan sampai karena tidak ada kemudi untuk mengarahkan kapal itu.

Posted in Lentera Dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *